Sepatu Merah (De røde Skoe) -1845

 

Sepatu Merah

Dahulu kala, hiduplah seorang gadis kecil, amat manis dan amat jelita, namun begitu miskin hingga ia harus bertelanjang kaki sepanjang musim panas. Dan di musim dingin, ia terpaksa mengenakan sepatu kayu tebal yang menggesek pergelangan kakinya sampai memerah, oh, semerah mungkin warnanya.

 

Di tengah desa itu tinggal seorang perempuan tua yang dijuluki Ibu Tua Pembuat Sepatu. Ia mengambil beberapa potongan kain merah lusuh, dan dengan segenap usahanya mencoba menjahitnya menjadi sepasang sepatu kecil. Sepatu itu agak canggung bentuknya, tetapi dibuat dengan niat yang tulus, sebab ia bermaksud memberikannya kepada si gadis kecil itu.

 

Karen, itulah nama si gadis kecil.

 

Untuk pertama kalinya Karen mengenakan sepatu merah barunya tepat pada hari ketika ibunya dimakamkan. Tentu saja, sepatu itu tidak pantas dipakai dalam suasana berkabung  namun itulah satu-satunya sepasang sepatu yang ia miliki, maka ia pun mengenakannya, dan berjalan tanpa penutup kaki di belakang peti mati dari anyaman sederhana.

 

Ketika itu, lewatlah sebuah kereta besar dan tua, dengan seorang perempuan tua yang juga besar dan tua duduk di dalamnya. Ia menatap si gadis kecil dan merasa iba padanya. Lalu ia pergi menemui pendeta dan berkata, “Berikan gadis kecil itu padaku, dan aku akan menjaganya dengan baik.”

 

Karen yakin semua itu terjadi karena ia mengenakan sepatu merah itu, namun perempuan tua itu berkata bahwa sepatu itu buruk rupa, dan memerintahkan agar sepatu-sepatu itu dibakar.

 

Karen pun diberi pakaian-pakaian yang pantas dan baru. Ia diajari membaca, dan diajari menjahit. Orang-orang berkata bahwa ia cantik, tetapi cermin berkata kepadanya, “Engkau lebih dari sekadar cantik. Engkau jelita.”

 

Pada suatu ketika, sang Ratu tengah berkelana melintasi negeri itu bersama putrinya yang masih kecil, seorang Putri. Karen pergi bersama seluruh penduduk yang berbondong-bondong menuju kastel untuk melihat mereka. Sang Putri kecil, seluruhnya berpakaian putih, berdiri di jendela agar rakyat dapat memandanginya. Ia tidak mengenakan jubah panjang, dan tidak pula memakai mahkota emas, namun ia mengenakan sepasang sepatu merah yang indah, terbuat dari kulit morocco yang mengilap. Tentu saja, sepatu-sepatu itu jauh lebih elok daripada yang pernah dibuat Ibu Tua Pembuat Sepatu untuk Karen, tetapi tak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menandingi sepasang sepatu merah!

 

Ketika Karen cukup dewasa untuk menerima penguatan iman, dibuatlah pakaian baru untuknya, dan ia akan mendapat sepasang sepatu baru. Mereka pergi ke rumah seorang pembuat sepatu yang makmur, agar ia mengukur kaki kecilnya. Di dalam tokonya terdapat lemari-lemari kaca besar, penuh dengan sepatu-sepatu tercantik dan sepatu bot paling mengilap. Semuanya tampak begitu memikat; namun, karena penglihatan perempuan tua itu sudah tidak tajam lagi, benda-benda indah itu tidak terlalu menarik perhatiannya.

 

Di antara sepatu-sepatu itu terdapat sepasang sepatu kulit merah, persis seperti yang pernah dikenakan sang Putri. Betapa sempurnanya sepatu itu! Sang pembuat sepatu berkata bahwa ia telah membuatnya untuk putri seorang bangsawan, tetapi ukurannya sedikit terlalu kecil baginya.

 

“Sepatu itu pasti dari kulit pernis, untuk bisa berkilau begitu,” ujar sang perempuan tua.

 

“Ya, memang, betapa berkilau mereka,” kata Karen.

 

Karena sepatu itu pas di kaki Karen, perempuan tua itu pun membelinya, namun ia sama sekali tidak tahu bahwa sepatu-sepatu itu berwarna merah. Seandainya ia mengetahuinya, tentu ia tidak akan pernah membiarkan Karen mengenakannya untuk upacara penguatan iman, namun justru itulah yang dilakukan Karen.

 

Setiap mata beralih memandang ke arah kakinya. Ketika ia berjalan menyusuri lorong menuju mimbar gereja, tampak olehnya seolah-olah bahkan potret-potret para pendeta dan istri mereka dari masa silam, yang bergaya dengan kerah-kerah kaku dan gaun panjang hitam, bahkan mereka pun menatap lurus ke arah sepatu merahnya.

 

Ia tak dapat memikirkan hal lain. Bahkan ketika pendeta meletakkan tangan di atas kepalanya dan berbicara tentang pembaptisannya yang suci, tentang perjanjiannya dengan Tuhan, serta tentang kewajibannya sebagai seorang Kristen, pikiran Karen tak beranjak dari sepatu merahnya.

 

Organ bergema dengan suara agung, anak-anak bernyanyi dengan lembut, dan pemimpin paduan suara yang tua ikut bernyanyi pula; namun Karen tak memikirkan apa pun selain sepatu merahnya.

 

Sebelum sore tiba, perempuan tua itu telah mendengar dari semua orang di paroki bahwa sepatu Karen berwarna merah. Ia menegur Karen dan berkata bahwa mengenakan sepatu merah ke gereja adalah perbuatan nakal. Betapa tidak pantasnya! Mulai saat itu, ia memerintahkan Karen untuk selalu memakai sepatu hitam ke gereja, bahkan sekalipun sepatu itu hanyalah sepatu lamanya.

 

Minggu berikutnya adalah hari perjamuan suci. Karen memandangi sepatu hitamnya. Ia memandangi pula sepatu merahnya. Ia terus memandangi sepatu merah itu sampai akhirnya ia mengenakannya.

 

Hari itu cerah, hangat, dan penuh cahaya. Karen dan perempuan tua itu menempuh jalan setapak melewati ladang gandum, di mana debu berterbangan halus. Di pintu gereja mereka berjumpa dengan seorang prajurit tua, yang berdiri bertumpu pada penyangga kakinya dan berjanggut panjang aneh, lebih kemerahan daripada putih — ya, sesungguhnya merah seluruhnya. Ia membungkuk sampai ke tanah, dan bertanya kepada perempuan tua itu apakah ia boleh membersihkan debu dari sepatunya.

 

Karen pun mengulurkan kaki kecilnya.

 

“Oh, betapa indahnya sepatu untuk menari,” kata sang prajurit.


“Jangan pernah lepas bila kau menari,” ujarnya kepada sepatu itu, sambil menepuk-nepuk telapak keduanya dengan tangannya.

 

Perempuan tua itu memberikan sekeping uang kepada prajurit itu, lalu melangkah masuk ke dalam gereja bersama Karen. Semua orang di sana memandang ke arah sepatu merah Karen, dan semua potret di dinding pun seolah menatapnya pula. Ketika Karen berlutut di pagar altar, bahkan ketika piala perjamuan didekatkan ke bibirnya, ia hanya dapat memikirkan sepatu merahnya. Seolah-olah sepatu itu menari di dalam piala itu sendiri, dan ia lupa menyanyikan mazmur; ia lupa mengucapkan Doa Bapa Kami.

 

Ketika kebaktian usai, perempuan tua itu naik ke dalam keretanya. Karen sedang mengangkat kakinya untuk naik setelahnya, ketika prajurit tua itu berkata, “Oh, betapa indahnya sepatu untuk menari!”

 

Karen tak kuasa menahan diri untuk mengambil beberapa langkah tarian kecil, dan begitu ia mulai menari, kakinya tak lagi dapat berhenti. Seolah-olah sepatu-sepatu itu kini menguasainya. Ia menari berputar di tikungan gereja, ia sungguh tidak dapat menahannya. Sang kusir harus berlari mengejarnya, menangkapnya, dan mengangkatnya masuk ke dalam kereta. Namun bahkan di sana, kakinya tetap menari, sehingga ia tanpa sengaja menendang-nendang perempuan tua itu dengan keras. Baru setelah sepatu itu dilepaskan, kakinya tenang kembali. Ketika mereka tiba di rumah, sepatu-sepatu itu disimpan di dalam lemari, tetapi Karen masih sering datang memandanginya.

 

Tak lama kemudian, perempuan tua itu jatuh sakit, dan dikatakan bahwa ia tak akan sembuh lagi. Ia memerlukan perawatan yang tiada henti dan kasih yang setia, dan untuk itu ia bergantung pada Karen. Namun sebuah pesta dansa besar akan diadakan di kota, dan Karen diundang untuk datang.


Ia memandang perempuan tua itu, yang toh tak mungkin hidup lebih lama.
Ia menatap sepatu merah itu, sebab ia berpikir tak ada salahnya hanya untuk melihat.
Lalu ia mengenakannya, sebab ia berpikir tak ada salahnya hanya untuk memakai.

 

Namun kemudian ia pergi ke pesta dansa  dan mulai menari.

 

Ketika ia mencoba berputar ke kanan, sepatu-sepatunya justru berputar ke kiri.
Ketika ia ingin menari ke arah ujung ruang dansa, sepatunya menari ke arah sebaliknya.
Mereka menari menuruni tangga, ke jalanan, dan menembus gerbang kota.

Ia menari, dan menari, dan harus menari lurus menuju hutan gelap.

 

Tiba-tiba sesuatu tampak berkilau di antara pepohonan, dan Karen mengira itu adalah bulan.
Namun ternyata yang bersinar itu adalah prajurit berjanggut merah.

 

Ia mengangguk dan berkata, “Oh, betapa indahnya sepatu untuk menari.”

 

Karen sangat ketakutan, dan berusaha melepaskan sepatunya. Ia merobek kaus kakinya, tetapi sepatu-sepatu itu telah menempel erat pada kakinya. Dan menari ia pun harus, sebab menari ia memang harus, menari melintasi ladang dan lembah, di bawah hujan dan di bawah matahari, siang dan malam tanpa henti.

 

Paling mengerikan adalah ketika malam tiba.

 

Ia menari di atas pemakaman tanpa pagar, tetapi para mati tidak ikut menari bersamanya, mereka memiliki urusan yang lebih baik. Ia mencoba duduk di atas makam orang miskin, di mana tumbuh adas pahit yang getir, namun di sana pun tak ada ketenangan dan tak ada damai baginya. Dan ketika ia menari mendekati pintu gereja yang terbuka, tampak olehnya malaikat berdiri menjaga. Malaikat itu mengenakan jubah panjang berwarna putih, dan sayap-sayapnya menjuntai dari bahunya hingga menyentuh tanah. Wajahnya serius dan tegas, dan di tangannya ia memegang sebilah pedang lebar yang berkilauan.

 

“Menarilah engkau!” katanya kepada Karen.


“Menarilah dalam sepatu merahmu hingga engkau pucat dan dingin, hingga dagingmu menyusut dan tinggal tulang belulang.
Menarilah engkau dari pintu ke pintu, dan di mana pun ada anak-anak yang sombong dan congkak, engkau harus mengetuk di pintu mereka sampai mereka mendengarmu dan takut kepadamu.
Menarilah engkau. Menarilah selamanya.”

 

“Kasihanilah aku!” teriak Karen dengan jerit yang memilukan.

 

Namun ia tak mendengar jawaban dari sang malaikat. Sepatunya menghempaskannya keluar menembus gerbang, melintasi ladang, sepanjang jalan besar dan jalan kecil, menari selamanya, dan selalu menari.

 

Suatu pagi ia menari melewati sebuah pintu yang sangat dikenalnya. Terdengar lagu pujian dari dalam, dan sebuah peti mati sedang diusung keluar, tertutup bunga-bunga. Maka tahulah ia bahwa perempuan tua itu telah meninggal dunia. Kini ia benar-benar sendirian di dunia, dan dikutuk oleh malaikat Tuhan.

 

Namun menarilah ia, dan haruslah ia menari, menembus malam yang gelap. Sepatu-sepatu itu membawanya melalui duri dan semak berduri yang menggores kulitnya hingga berdarah. Ia menari melintasi padang tandus sampai tiba di sebuah rumah kecil yang sunyi. Ia tahu, di sanalah tempat tinggal si algojo, dan dengan jarinya ia mengetuk kaca jendela rumah itu.

 

“Keluarlah!” serunya. “Keluarlah! Aku tak dapat masuk, sebab aku sedang menari.”

 

Sang algojo berkata, “Tampaknya engkau tak tahu siapa aku. Aku yang memenggal kepala orang jahat, dan aku dapat merasakan kapakku mulai bergetar.”

 

“Jangan penggal kepalaku, sebab kalau begitu aku takkan dapat bertobat atas dosaku,” kata Karen.


“Namun tebaslah kakiku,  kaki yang mengenakan sepatu merah ini.”

 

Ia pun mengaku dosa-dosanya, dan si algojo menebas kaki Karen dengan sepatu merah itu masih melekat padanya. Sepatu-sepatu itu lalu menari pergi bersama kaki kecilnya, menyeberangi padang menuju hutan yang dalam. Tetapi algojo itu membuatkan kaki kayu dan sepasang tongkat baginya. Ia mengajarinya sebuah lagu pujian, lagu yang biasa dinyanyikan para tawanan bila mereka menyesali perbuatan mereka. Karen mencium tangan yang menggenggam kapak itu, dan beranjak kembali melintasi padang tandus.

 

“Kini aku telah cukup menderita karena sepatu merah itu,” katanya. “Aku akan pergi dan memperlihatkan diriku lagi di gereja.”

 

Ia berjalan pincang ke gereja secepat yang ia bisa. Namun ketika tiba di sana, sepatu merah itu muncul dan menari di hadapannya. Ia ketakutan dan berbalik. Sepanjang minggu ia bersedih, dan menumpahkan banyak air mata pahit. Tetapi ketika Minggu datang kembali, ia berkata, “Kini aku telah cukup menderita dan menangis. Aku kira aku telah sebaik banyak orang yang duduk di gereja dengan kepala terangkat tinggi.”

 

Ia pun berangkat tanpa rasa takut. Namun begitu ia sampai di gerbang gereja, ia melihat sepatu merah itu menari di hadapannya. Lebih ketakutan dari sebelumnya, ia berbalik lagi, dan dengan segenap hatinya, ia benar-benar bertobat.

 

Ia pergi ke rumah pendeta, dan memohon agar diberi pekerjaan sebagai pelayan. Ia berjanji akan bekerja keras, melakukan apa pun yang diminta. Upah tak menjadi soal, asalkan ia punya atap untuk berteduh dan hidup di antara orang-orang baik. Istri pendeta itu merasa kasihan padanya, dan memberinya pekerjaan di rumah pastori. Karen setia dan sungguh-sungguh. Di malam hari ia duduk dengan tenang, mendengarkan setiap kata ketika pendeta membacakan Alkitab. Anak-anak sangat menyayanginya; tetapi bila mereka berbicara tentang renda dan perhiasan, dan ingin menjadi secantik ratu, ia hanya menggelengkan kepala.

 

Ketika hari Minggu berikutnya tiba, anak-anak itu memintanya ikut ke gereja. Namun dengan mata berlinang, ia memandang tongkatnya dan menggeleng pelan. Yang lain pergi untuk mendengar firman Tuhan, tetapi ia kembali ke kamar kecilnya yang sepi, ruang sempit yang hanya cukup untuk ranjang dan sebuah kursi. Ia duduk dengan buku nyanyian pujian di tangannya, dan ketika ia membacanya dengan hati yang penuh penyesalan, ia mendengar bunyi organ dari gereja, suara angin membawa nada-nada itu menembus jendelanya. Wajahnya basah oleh air mata, dan ia menengadah, berseru, “Tolonglah aku, ya Tuhan!”

 

Lalu matahari bersinar terang, dan malaikat berjubah putih berdiri di hadapannya. Itulah malaikat yang sama yang pernah dilihatnya malam itu, di depan pintu gereja. Namun kini ia tak lagi menggenggam pedang tajam, melainkan setangkai ranting hijau yang dihiasi mawar-mawar. Ia menyentuh langit-langit dengan ranting itu; di tempat yang disentuhnya tampaklah bintang emas, dan langit-langit itu terangkat tinggi. Ia menyentuh dinding, dan dinding itu terbuka lebar. Karen melihat organ besar bersuara dalam, melihat potret para pendeta dan istri mereka, melihat jemaat duduk di bangku-bangku berhias bunga, bernyanyi dari buku pujian mereka.

 

Entah gereja itu datang kepadanya di kamar sempitnya, atau dirinya yang dibawa masuk ke gereja itu.  tak seorang pun tahu. Ia duduk di bangku bersama keluarga pendeta. Ketika lagu pujian selesai, mereka memandangnya dan mengangguk, “Sudah sepatutnya engkau datang, Karen kecil,” kata mereka.

 

“Itulah kasih karunia Tuhan sendiri,” jawabnya.

 

Organ pun bergema, dan anak-anak paduan suara bernyanyi lembut dan indah. Sinar matahari yang jernih mengalir hangat menembus jendela, jatuh tepat ke bangku tempat Karen duduk.


Ia begitu dipenuhi cahaya itu  dengan sukacita dan damai  hingga hatinya terbelah, dan rohnya terbang mengikuti pancaran sinar matahari itu menuju surga, tempat tak seorang pun menanyainya tentang sepatu merah itu lagi.


Komentar