Lilin Lemak (Tællelyset) -1820

 

Lilin Lemak

Ia mendesis dan berdesis ketika nyala api memanaskan kuali. Itulah buaian Lilin Lemak dan dari buaian hangat itu muncullah sebatang lilin yang sempurna. Padat, berkilau putih, dan ramping, lilin itu dibentuk sedemikian rupa hingga setiap orang yang melihatnya percaya bahwa ia adalah janji akan masa depan yang cerah dan bersinar, janji yang semua yang memandangnya yakin, benar-benar ingin dipenuhi dan ditepati olehnya.

Domba, seekor domba kecil yang elok, adalah ibu sang lilin, dan kuali peleburlah ayahnya. Dari sang ibu, ia mewarisi tubuh putih berkilau serta sedikit naluri tentang kehidupan; namun dari sang ayah, ia menerima kerinduan akan api menyala yang suatu hari kelak akan meresap hingga ke sumsum dan tulangnya, lalu bersinar baginya dalam kehidupan. Demikianlah ia dilahirkan dan bertumbuh; dan dengan harapan yang paling indah dan terang, ia melemparkan dirinya ke dalam keberadaan.

Di sanalah ia bertemu dengan begitu banyak, banyak ciptaan aneh, dan ia pun terlibat dengan mereka, ingin belajar tentang kehidupan dan mungkin menemukan tempat di mana ia paling cocok berada. Namun ia menaruh terlalu banyak percaya pada dunia yang hanya peduli pada dirinya sendiri, dan sama sekali tidak peduli pada Lilin Lemak. Sebuah dunia yang gagal memahami nilai sang lilin, dan dengan demikian berusaha menggunakannya demi keuntungan sendiri, sambil memegang lilin itu dengan cara yang keliru.

Jari-jari hitam meninggalkan noda yang makin lama makin besar pada kepolosan putihnya yang murni, hingga akhirnya sirna, tertutup sepenuhnya oleh kotoran dari dunia sekitar yang telah datang terlalu dekat. Terlalu dekat dari yang mampu ditanggung lilin itu, sebab ia tak mampu membedakan antara noda dan kemurnian, meskipun di dalam dirinya ia tetap suci dan tak ternodai. Teman-teman palsu mendapati bahwa mereka tak dapat menjangkau batinnya, dan dengan marah melemparkan lilin itu jauh, menganggapnya tak berguna.

Cangkang luar yang ternoda itu menjauhkan semua kebaikan, sebab mereka takut akan terkotori oleh noda dan cela, maka mereka pun menjauh. Maka tinggallah si malang Lilin Lemak, sebatang kara dan sendirian, kebingungan tak tahu apa yang harus diperbuat. Ditolak oleh yang baik, kini ia sadar bahwa dirinya hanyalah alat untuk melayani yang jahat. Ia merasa begitu tak terperi sedihnya, karena ia telah menghabiskan hidupnya tanpa tujuan yang baik, bahkan mungkin telah menodai bagian-bagian terbaik dari sekelilingnya.

Ia sama sekali tak dapat memastikan mengapa ia diciptakan atau di mana tempatnya berada. Mengapa ia ditempatkan di dunia ini, mungkin hanya untuk berakhir dengan menghancurkan dirinya sendiri dan yang lain. Semakin lama, semakin dalam ia merenung, namun semakin ia memikirkan dirinya, semakin putus asa jadinya, tak menemukan sesuatu yang baik, tiada isi yang sejati baginya, tiada tujuan nyata bagi keberadaan yang telah diberikan padanya sejak lahir. Seakan-akan jubah kotor itu pun telah menutupi matanya.

Namun kemudian ia bertemu dengan sebuah nyala kecil, sebuah kotak pemantik. Kotak itu mengenal lilin lebih baik daripada Lilin Lemak mengenal dirinya sendiri.

Kotak pemantik itu memiliki pandangan yang begitu jernih, menembus langsung cangkang luarnya, dan di dalam ia menemukan begitu banyak kebaikan. Ia pun mendekat, dan lilin pun dipenuhi dengan harapan yang terang, ia menyala dan hatinya pun meleleh. Keluarlah nyala api, laksana obor perkawinan yang penuh sukacita. Cahaya memancar terang dan jernih ke sekeliling, menyinari jalan ke depan bagi sekitarnya, sahabat sejati yang kini dapat mencari kebenaran dalam sinar sang lilin.

Tubuhnya pun cukup kuat untuk memberi santapan bagi nyala api yang bersemangat itu. Setetes demi setetes, bagaikan benih kehidupan baru, menetes bulat dan gemuk di sepanjang tubuh lilin, menutupi kotoran lama dengan tubuh mereka. Mereka bukan hanya wujud jasmani, melainkan juga hasil rohani dari perkawinan itu. Dan Lilin Lemak pun menemukan tempatnya yang sejati dalam kehidupan, serta menunjukkan bahwa ia sungguh sebuah lilin, lalu terus bersinar bertahun-tahun lamanya, menggembirakan dirinya sendiri dan makhluk-makhluk lain di sekelilingnya.

Komentar