Kisah Seorang Ibu (Historien om en Moder) - 1847

 

Kisah Seorang Ibu

Seorang ibu duduk di sisi anak kecilnya. Ia begitu sedih, begitu takut bahwa anak itu akan mati. Wajah sang anak pucat pasi. Mata kecilnya terpejam. Nafasnya datang begitu lemah kini, lalu berat, seolah ia menghela napas panjang, dan sang ibu menatap jiwa mungil yang terkasih itu dengan semakin dalam kesedihan.

 

Terdengar ketukan di pintu, dan seorang lelaki tua yang miskin terpincang-pincang masuk ke dalam rumah. Ia berselubung kain tebal dari selimut kuda. Kain itu menjaga tubuhnya tetap hangat, dan ia sungguh membutuhkannya untuk menahan dingin musim dingin, sebab di luar, dunia tertutup salju dan es, dan angin berhembus tajam bagai sembilu.

 

Karena si anak sedang beristirahat tenang sejenak, dan lelaki tua itu menggigil kedinginan, sang ibu menaruh secangkir kecil bir di atas tungku agar hangat untuknya. Lelaki tua itu mengayun-ayunkan buaian, sementara sang ibu duduk dekatnya, menjaga anaknya yang sakit, yang berjuang untuk menarik setiap helaan napas. Ia mengangkat tangan mungilnya dan bertanya, “Engkau tak mengira aku akan kehilangannya, bukan? Apakah Tuhan yang baik akan mengambilnya dariku?”

 

Lelaki tua itu adalah Kematian sendiri. Ia menundukkan kepala dengan gerakan aneh, gerakan yang bisa berarti ya, namun bisa pula berarti tidak. Sang ibu menundukkan kepalanya, dan air mata mengalir di pipinya. Kepalanya terasa begitu berat.

 

Selama tiga hari tiga malam ia belum memejamkan mata. Kini ia terlelap sejenak, namun hanya sekejap saja. Sesuatu mengejutkannya, dan ia terbangun, menggigil dalam dingin.

 

“Apa itu?” katanya, memandang ke sekeliling ruangan. Tetapi lelaki tua itu telah pergi dan anak kecilnya pun telah tiada. Kematian telah membawanya pergi.

 

Jam tua di sudut ruangan berderak dan berderak; pemberat timahnya yang berat jatuh ke lantai dengan dentuman keras. Bong! Jam itu berhenti berdetak. Ibu yang malang itu berlari keluar dari rumah dengan mata liar, memanggil-manggil anaknya.

 

Di luar, di atas salju, duduklah seorang perempuan berpakaian panjang serba hitam. “Kematian,” katanya, “telah masuk ke rumahmu. Aku baru saja melihatnya terburu-buru pergi sambil menggendong anakmu di dalam pelukannya. Ia berjalan lebih cepat dari angin. Dan ia tak pernah mengembalikan apa yang telah diambilnya.”

 

“Katakan padaku jalan mana ia pergi,” ujar sang ibu. “Katakan saja jalannya, dan aku akan menemukannya.”

 

“Aku tahu jalannya,” kata perempuan berpakaian hitam itu, “tetapi sebelum kukatakan padamu, engkau harus menyanyikan semua lagu yang dulu kau nyanyikan untuk anakmu. Aku adalah Malam. Aku mencintai lagu nina bobo, dan sering kali aku mendengarnya. Ketika engkau menyanyikannya, aku melihat air matamu.”

 

“Aku akan menyanyikannya lagi—kau akan mendengar semuanya,” kata sang ibu, “tetapi jangan halangi aku sekarang. Aku harus menyusulnya. Aku harus bergegas menemukan anakku.”

 

Malam tetap diam dan tak bergerak, sementara sang ibu meremas tangannya, bernyanyi, dan menangis. Ia menyanyikan banyak lagu, namun air mata yang ia teteskan jauh lebih banyak daripada lagunya. Akhirnya Malam berkata kepadanya, “Pergilah ke sebelah kanan. Masuklah ke dalam hutan pinus yang gelap. Aku melihat Kematian pergi ke sana sambil membawa anakmu.”

 

Jauh ke dalam hutan, sang ibu tiba di sebuah persimpangan jalan, di mana ia bingung hendak mengambil arah yang mana. Di persimpangan itu tumbuhlah sebatang semak duri hitam, tanpa daun ataupun bunga, sebab waktu itu musim dingin, dan cabang-cabangnya berlapis es.

 

“Apakah engkau melihat Kematian lewat, membawa anak kecilku?”

 

“Ya,” kata semak duri hitam itu. “Tetapi aku tidak akan memberitahumu jalan mana ia pergi, kecuali engkau menghangatkanku di dadamu. Aku hampir mati membeku. Aku kaku diselimuti es.”

 

Ia menekan semak duri hitam itu ke dadanya untuk menghangatkannya, dan duri-durinya menusuk begitu dalam ke dalam dagingnya hingga tetesan darah merah besar mengalir keluar. Begitu hangatnya hati sang ibu, hingga semak duri hitam itu berbunga dan menumbuhkan daun hijau pada malam musim dingin yang kelam itu. Dan semak itu pun memberitahunya arah yang harus ditempuh.

 

Lalu sampailah ia di tepi sebuah danau besar, di mana tak ada perahu layar maupun perahu dayung. Es di permukaan danau itu terlalu tipis untuk menahan berat tubuhnya, namun juga tak cukup terbuka atau dangkal untuk ia seberangi dengan berjalan kaki. Namun menyeberangi danau itu haruslah ia lakukan, bila ia hendak menemukan anaknya. Ia menunduk, berniat untuk meminum habis seluruh danau itu, dan tentu saja itu mustahil bagi seorang manusia, namun perempuan malang itu berpikir barangkali suatu mukjizat akan terjadi.

 

“Tidak, itu tak akan berhasil,” bantah danau itu. “Mari kita buat suatu perjanjian di antara kita. Aku mengumpulkan mutiara, dan kedua matamu adalah yang paling jernih yang pernah kulihat. Jika engkau mau menangis hingga kedua matamu terlepas untukku — menjadikannya milikku — maka aku akan membawamu menyeberang, menuju rumah kaca besar tempat Kematian tinggal, di mana ia merawat pohon-pohon dan bunga-bunganya. Masing-masing dari mereka adalah sebuah kehidupan manusia.”

 

“Oh, apa yang tak akan kuberikan demi anakku,” kata sang ibu yang menangis, dan ia menangis sampai kedua matanya jatuh ke dasar danau dan berubah menjadi dua mutiara yang amat berharga. Danau itu mengangkatnya seperti di atas ayunan, dan membawanya ke tepian seberang.

 

Di situ berdirilah rumah yang paling aneh yang pernah ada. Rumah itu menjulur luas sejauh mata memandang. Seseorang tak akan tahu apakah itu gunung berhutan yang berongga, ataukah bangunan kayu yang tak beraturan. Namun ibu malang itu tak dapat melihatnya, sebab ia telah menangis sampai kedua matanya habis.

 

“Di mana aku dapat menemukan Kematian, yang telah mengambil anakku dariku?” serunya.

 

“Ia belum kembali,” jawab perempuan tua yang menjaga rumah kaca besar itu ketika Kematian pergi. “Bagaimana engkau bisa sampai ke sini? Siapa yang menolongmu?”

 

“Tuhanlah yang menolongku,” jawab sang ibu. “Ia Maha Pengasih, dan demikian juga engkau harusnya. Di mana aku dapat menemukan anakku?”

 

“Aku tidak mengenalnya,” kata perempuan tua itu, “dan engkau pun tak dapat melihat untuk menemukannya. Namun banyak bunga dan pohon yang telah layu malam ini, dan Kematian akan segera datang untuk memindahkan mereka. Setiap manusia, ketahuilah, memiliki pohon atau bunga kehidupannya sendiri, sesuai dengan seperti apa dirinya. Mereka tampak seperti tumbuhan biasa, tetapi masing-masing memiliki jantung yang berdenyut. Jantung seorang anak pun berdetak demikian pula. Engkau tahu irama detak jantung anakmu sendiri. Dengarkan, dan mungkin engkau akan mendengarnya. Tetapi, apa yang akan kauberikan padaku jika aku memberitahumu apa lagi yang harus kauperbuat?”

 

“Aku tak memiliki apa-apa lagi,” kata ibu malang itu, “namun aku akan pergi sampai ke ujung bumi demi engkau.”

 

“Aku tak punya urusan di sana,” kata perempuan tua itu, “tapi engkau dapat memberiku rambut hitammu yang panjang. Engkau tahu betapa indahnya itu, dan aku menyukainya. Sebagai gantinya, aku akan memberimu rambut putihku. Rambut putih lebih baik daripada tidak punya sama sekali.”

 

“Itu saja yang kauinginkan?” kata sang ibu. “Dengan senang hati akan kuberikan.” Dan ia pun menyerahkan untaian rambut hitamnya yang indah, menukarnya dengan rambut putih milik perempuan tua itu.

 

Kemudian mereka masuk ke rumah kaca besar milik Kematian, di mana bunga-bunga dan pepohonan tumbuh dalam jalinan yang aneh. Di suatu tempat, bunga-bunga yakut halus dijaga di bawah lonceng kaca, dan di sekitarnya tumbuh bunga-bunga peoni besar yang kokoh. Ada pula tumbuhan air, sebagian hidup subur di tempat batang-batang tumbuhan lain dicekik oleh ular air yang berpilin, atau digerogoti oleh udang karang hitam. Pohon-pohon palem yang tinggi tumbuh di sana, juga pohon platanus dan pohon ek. Di antara mereka tumbuh peterseli dan timi yang harum. Setiap pohon dan bunga diberi nama seseorang tertentu, sebab masing-masing adalah kehidupan dari seseorang yang masih hidup  di Tiongkok, di Greenland, atau di bagian dunia lainnya.

 

Ada pohon-pohon besar yang terhimpit oleh pot kecil hingga akar-akarnya meluap dan nyaris meledak, dan di tempat lain tumbuh bunga-bunga kecil yang lemah, yang tak pernah berkembang, meskipun dirawat dengan penuh kasih, ditanam di tanah subur, dan diselimuti lumut yang lembap. Ibu yang buta dan sedih itu membungkuk di atas tanaman-tanaman terkecil, mendengarkan denyut jantung manusia mereka, dan di antara berjuta-juta yang ada, ia mengenali denyut jantung anaknya sendiri.

 

“Inilah dia,” serunya, meraba sebuah bunga crocus biru kecil yang telah layu dan rebah ke satu sisi.

 

“Jangan sentuh bunga itu,” kata perempuan tua. “Tinggallah di sini. Kematian akan datang kapan saja, dan engkau dapat mencegahnya mencabut bunga itu. Ancamlah dia bahwa, jika ia melakukannya, engkau akan mencabut bunga-bunga lainnya. Itu akan menakutinya, sebab ia harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan. Tak satu pun boleh dicabut sebelum Tuhan menghendakinya.”

 

Tiba-tiba, angin sedingin es bertiup menembus tempat itu, dan sang ibu yang buta merasakan bahwa Kematian telah datang mendekat.

 

“Bagaimana engkau dapat menemukan jalan ke sini?” tanyanya. “Bagaimana mungkin engkau sampai di sini lebih dahulu dariku?”

 

“Aku seorang ibu,” jawabnya.

 

Lalu Kematian mengulurkan tangan panjangnya ke arah bunga kecil yang layu itu, tetapi ia menggenggam kedua tangannya erat-erat di sekeliling bunga itu, ketakutan kalau-kalau satu helai daunnya pun tersentuh. Kematian menghembuskan napasnya pada tangan-tangan itu, dan hembusannya lebih dingin daripada angin paling dingin yang pernah bertiup. Maka tangan sang ibu pun terkulai, tak berdaya.

 

“Engkau tak memiliki kekuatan untuk melawanku,” kata Kematian.

 

“Tetapi Tuhan kita memilikinya,” jawab sang ibu.

 

“Aku hanya menjalankan kehendak-Nya,” ujar Kematian. “Aku adalah tukang kebun-Nya. Aku mengambil bunga-bunga dan pepohonan-Nya, lalu menanamnya kembali di taman Firdaus yang agung, di negeri yang tak dikenal. Namun bagaimana mereka tumbuh di sana, dan kehidupan seperti apa yang mereka jalani di sana, itu tidak berani kukatakan.”

 

“Berikan kembali anakku kepadaku,” ratap dan mohon sang ibu. Tiba-tiba ia meraih dua bunga yang indah, satu di tiap tangan, dan sambil menggenggamnya erat ia berseru kepada Kematian:
“Aku akan mencabut bunga-bungamu sampai ke akar-akarnya, sebab aku telah menjadi putus asa!”

 

“Jangan sentuh mereka!” kata Kematian. “Engkau berkata engkau putus asa, namun engkau akan membuat seorang ibu lain merasakan keputusasaan yang sama.”

 

“Seorang ibu lain!” seru perempuan buta itu, dan tangannya pun melepaskan bunga-bunga itu.

 

“Lihatlah,” kata Kematian, “engkau kini mendapatkan kembali matamu. Aku melihatnya berkilau ketika aku menyeberangi danau, lalu memungutnya, namun aku tidak tahu bahwa itu milikmu. Sekarang keduanya lebih jernih daripada sebelumnya. Ambillah, dan tataplah dalam ke sumur ini. Aku akan memberitahumu nama-nama bunga yang hendak kau cabut, dan engkau akan melihat seluruh masa depan dari kehidupan manusia yang akan kau rusak dan ganggu.”

 

Ia menatap ke dalam sumur itu, dan hatinya bersukacita ketika melihat bagaimana satu kehidupan menjadi berkat bagi dunia, karena kehidupan itu penuh kebaikan dan kebahagiaan. Namun kemudian ia melihat kehidupan yang lain, yang di dalamnya tiada selain kesedihan, kemiskinan, ketakutan, dan derita.

 

 

“Segala sesuatu adalah kehendak Tuhan,” kata Kematian.

 

“Yang mana dari mereka yang ditakdirkan untuk sengsara, dan yang mana yang bahagia?” tanya sang ibu.

 

“Itu tidak akan kukatakan kepadamu,” jawab Kematian. “Namun kukatakan ini: salah satu bunga itu adalah milik anakmu sendiri. Salah satu kehidupan yang telah kau lihat tadi adalah nasib anakmu, masa depan anakmu sendiri.”

 

Maka sang ibu menjerit ketakutan, “Yang mana anakku? Katakan padaku! Selamatkan anakku yang tak berdosa! Jauhkan dia dari penderitaan yang demikian! Lebih baik ia diambil darik, bawalah dia ke kerajaan Tuhan! Lupakan air mataku, lupakan doa-doa yang telah kupanjatkan, dan segala yang telah kulakukan!”

 

“Aku tidak mengerti,” kata Kematian. “Apakah engkau ingin mengambil kembali anakmu sendiri, ataukah aku harus membawanya pergi ke negeri yang tak kaukenal?”

 

Maka sang ibu memelintir kedua tangannya, jatuh berlutut, dan berdoa kepada Tuhan:

 

“Jangan dengarkan aku bila aku berdoa menentang kehendak-Mu. Yang terbaik adalah yang Engkau kehendaki. Jangan dengarkan aku, jangan dengarkan aku!”

 

Dan ia menundukkan kepalanya, sementara Kematian membawa anaknya pergi ke negeri yang tak dikenal.

Komentar